Pagi ini (25/5/13) merupakan hari libur dalam rangka hari besar keagamaan.
Teman-teman sedang praktikum lapangan geohidro, sedangkan aku masih di rumah karena tak mengambil mata kuliah itu. Banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan, namun apa daya niat belum sepenuhnya terkumpul untuk menyelesaikannya.
Aku butuh istirahat. Mungkin sejenak aku harus bersantai melepas penat dengan meutar kembali lagi-lagi di playlist HP. Oke, aku melakukan hal itu.
Dipilih… dipilih… yo dipilih…
Akhirnya aku membuka sebuah direktori yang lumayan lama tak kubuka. Namanya adalah “nasyid”. Oke, aku putuskan untuk memutar file yang di dalamnya.
Oh Tuhan, seandainya telah Kau catatkan
Dia milikku, tercipta untuk diriku
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan
Ya Allah, ku mohon
Apa yang telah Kau takdirkan
Ku harap dia adalah yang terbaik buatku
Kerana Engkau tahu segala isi hatiku
Pelihara daku dari kemurkaan-Mu
Ya Tuhanku, yang Maha Pemurah
Beri kekuatan jua harapan
Membina diri yang lesu tak bermaya
Semaikan setulus kasih di jiwa
Ku pasrah kepadaMu
Kurniakanlah aku
Pasangan yang beriman
Bisa menemani aku
Supaya ku dan dia
Dapat melayar bahtera
Ke muara cinta yang Engkau redhai
Ya Tuhanku, yang Maha Pengasih
Engkau sahaja pemeliharaku
Dengarkan rintihan hamba-Mu ini
Jangan Engkau biarkan ku sendiri
Agarku bisa bahagia
Walau tanpa bersamanya
Gantikanlah yang hilang
Tumbuhkan yang telah patah
Ku inginkan bahagia
Di dunia dan akhirat
Pada-Mu Tuhan ku mohon segala
(Doa Seorang Kekasih - In Team)
Tak terasa menetes satu demi satu bulir itu. Lagu ini mengingatkanku pada esensi sebuah rasa cinta. Rasa yang tak dapat didefinisikan datangnya dari mana dan apa sebabnya.
Lalu aku mulai memahami, bahwa sebuah proses menentukan hasil yang di dapat. Bukan melulu hasil yang dapat dicandra, namun hasil yang kita pun tak tahu mekanisme perhitungannya. Hal itu berlaku pula pada rasa cinta.
Kau yang selalu menjaga namun aku kerap tak dapat menahannya. Aku menyesal atas dosa-dosa yang mungkin kucipta atas ketidakmampuanku menahan hati yang lalu.
Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Dan saat ini aku masih takut kalau ternyata aku masih ingin berenang menuju pada tepian hatimu. Aku manusia, yak tak mungkin tak berdosa. Sulit rasanya menghapus jejakmu, karena jejakmu telah menuntunku pada keislamanku.
Kahitna - Takkan Terganti
… Meski waktu datang dan berlalu
Sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu
Mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti …
Sudah lama saya tidak ngepost. Bukan karena tidak ada bahan, tapi kurang mampu meluangkann waktu untuk menulis.
Walau begitu, kesibukan dan organisasi sudah memiliki ruang tersendiri pada hatiku. Pada suatu sisi, bertemu banyak orang memberikan rasa yang… menyenangkan. :)
Berkali-kali hal ini muncul pada pikiranku, “Ketika semua amanah kesibukan ini tak berada pada diri ini, akan menjadi se-nglangut apa diriku?”
Pikiran ini pun pernah muncul, “Jikalau aku menjadi ibu rumah tangga, se-nglangut apa diriku?”. Menjadi istri dan ibu sudah menjadi naluriku sebagai seorang wanita. Namun entah, rasanya aku masih kurang bisa menerima bila aktivitasku kelak hanya berkutat di rumah. Aku ingin bekerja!
Kadang, pikiran ini juga muncul secara tiba-tiba, “Aku mau menemanimu berkancah pada politik, bila memang itu maumu. Aku rela! Aku akan menjadi istri seorang presiden, walau segala amanah akan membayangiku bila aku melakoni peran itu. Bukankah kau bilang ingin menjadi presiden? Tak usah bilang ‘ingin’, bahkan saat ini pun kau sudah pernah menjadi mantan presiden. Saat itu aku masih terlalu muda untuk menemanimu.”
Untuk masa jabatanmu yang akan datang, entah aku akan ditakdirkan menemanimu atau tidak. Kau bilang kepadaku untuk jangan terlalu berharap. Jangan mengikhtiarkan diri pada urusan jodoh. Segala apapun persiapan yang kita lakukan untuk segala hubungan itu, pada akhirnya takdir Allah-lah yang membawa kita pada akhir yang belum kita ketahui.
Entah kenapa, setiap aku berbicara pada media ini, selalu bermuara padamu. Mungkin karena aku membuat akun ini untuk bercerita tentangmu.